PMKRI RUTENG – Menjelang Kongres Ke-XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) Ke-XXXIII Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Sanctus Thomas Aquinas, seluruh elemen perhimpunan menggelar Misa Perutusan di Marga Siswa PMKRI Cabang Ruteng, Kamis (16/7/2026).
Misa perutusan ini dihadiri langsung oleh jajaran panitia pelaksana (Organizing Committee), fungsionaris PMKRI Cabang Ruteng selaku tuan rumah, serta Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) PMKRI dari tiga kabupaten: Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.
Dalam khotbahnya yang kontekstual, Romo Bernard, menekankan esensi Injil tentang “Garam dan Terang Dunia” sebagai kompas gerakan kader. Ia menyoroti laju perkembangan dunia saat ini yang bergerak sangat pesat di sektor globalisasi, ekonomi, maupun disrupsi teknologi. Menurutnya, realitas ini membawa dampak ganda yang harus direspons secara kritis oleh perhimpunan.
“Kader PMKRI dituntut untuk tidak sekadar larut dalam arus zaman. Sebagai organisasi pengkaderan dan perjuangan, muara dari proses formasi di PMKRI adalah melahirkan kader yang berani melawan arus (contra culturam) jika perkembangan tersebut justru meminggirkan dan merugikan masyarakat kecil yang tertindas,” tegas Romo Bernard.
Lebih lanjut, Romo Bernard mengingatkan bahwa momentum Kongres dan MPA tidak boleh terjebak pada komodifikasi politik elektoral internal atau sekadar perebutan takhta kepemimpinan. Menurutnya, esensi dari forum tertinggi perhimpunan ini adalah merumuskan nakhoda dan arah gerak yang mampu membawa PMKRI menjadi organisasi yang berdaulat di tengah ketidakpastian geopolitik dan krisis ekologi global.
“Paling kurang, wajah PMKRI ke depan adalah wajah yang berani. Berani menyuarakan kebenaran dan dengan tegas menolak apa yang salah. Keberanian itu tidak datang instan, melainkan lahir dari kesetiaan mengikuti proses pengkaderan yang dibentuk melalui hal-hal sederhana. Dari kesederhanaan itulah integritas seorang kader ditempa,” tambahnya.
Di akhir refleksinya, Romo Bernard mengangkat figur Rasul Paulus sebagai teladan gerakan. Paulus digambarkan sebagai tokoh hebat yang memilih jalan hidup sederhana namun gigih memperjuangkan kebaikan universal. Ia menegaskan bahwa kebutuhan mendesak bagi PMKRI hari ini untuk menghadapi perubahan zaman yang tidak terarah adalah memunculkan wajah perhimpunan yang visioner.
Misa perutusan ini berlangsung khidmat, sekaligus menjadi momentum untuk menjalin ikatan batin yang kuat PMKRI Cabang Ruteng dan Forkoma Se-Manggarai Raya sehingga dapat menyukseskan kegiatan nasional, demi menentukan arah masa depan perhimpunan.(*)







